Destination management: Thailand, Myanmar & Indochina ( Vietnam, Laos, Kamboja )

SMS/WHATSAPP+84-983 068 968

International tour operator license number: 79-168, issued by VNAT
(Vietnam National Administrative of Tourism)
 
 
 
 
Tiếng Việt 

Indonesia 
  русский 
  Italiano 
 

Share this 

BenThanh Market

Cuchi tunnles

Halong Bay

Hue Imperial Citadel

    


We enlarge in new office site for more information about package tour, more optional tour, more attractive destination, try to visit us: www.dongtravel.com
(Kita memperbesar di situs kantor baru untuk informasi lebih lanjut tentang paket tur,tur lebih opsional, tujuan yang lebih menarik, cobalah untuk mengunjungi kami: www.dongtravel.com)

Ho Chi Minh City
Tidak Seperti yang Dibayangkan

HO CHI MINH CITY – Tidak banyak dari kita yang pernah berkunjung ke Vietnam dan mengenal negeri yang baru selesai berperang tahun 1975 ini. Pengetahuan kita tentang negara Paman Ho itu mungkin sebatas dari film-film Perang Vietnam buatan Hollywood yang dibintangi Chuck Norris atau Silvester Stalone. Membayangkan memasuki negara yang berpaham sosialisme itu pun rasanya seram.

Itulah yang terbayang selama perjalanan dari Jakarta-Singapura-Ho Chi Minh City, mengikuti penerbangan perdana Garuda Indonesia dengan Boeing 737-300 milik Garuda Indonesia. Bayangan itu seolah-olah mendekati kenyataan saat kami mendarat di landasan Bandar Udara Internasional, Tan Son Nhat, sebagian bangunan peninggalan masa lalu masih tampak di sana-sini.
Namun bayangan itu buyar, ketika melihat ruang-ruang bandara yang rapi, bersih dan sejuk. Para petugas imigrasi dengan ramah menyambut kami. “No visa, no visa for Indonesia,” ujar petugas itu sambil tersenyum ramah, Desember lalu pemerintah Vietnam baru saja menerapkan kebijakan bebas visa untuk ASEAN. Memang perlu waktu untuk memeriksa paspor kami, dan mereka memasukkan data ke komputer.
Keluar ruang imigrasi, di tempat pengambilan barang, hanya ada satu tempat penukaran uang yang hanya mau menerima penukaran dari mata uang asing, terutama dolar AS, ke dong (mata uang Vietnam) dan tidak sebaliknya. Di luar bandara, suasana ramai dan mirip bandar udara Polonia di Medan. Namun, yang terasa justru suasana aman hingga kami tak merasa khawatir sedikit pun. Bandara Internasional Tan Son Nhat kini menerima penerbangan dari berbagai belahan dunia, terutama dari Singapura, Bangkok, Kuala Lumpur dan Hong Kong.
Dalam perjalanan menuju ke kota, terlihat bahwa jalan-jalan relatif bersih, di sana-sini masih terpasang tanda-tanda bekas SEA Games. Bahkan menjelang Natal, ketika itu, pemerintah kota menempatkan rak-rak berbentuk pohon cemara berisikan pot-pot tanaman hias. Pemandangan yang sungguh indah dan menarik, apalagi jika mengingat kota itu baru keluar perang 25 tahun lalu.
Kota Ho Chi Minh sangat padat penduduknya berjumlah sekitar 6 juta jiwa. Berjalan-jalan di kota ini yang terasa justru aroma kapitalis. Bayangkan saja, iklan-iklan luar ruang yang besar-besar tampak di sepanjang jalan yang mempromosikan segala hal—mulai dari produk konsumsi seperti bir hingga propaganda negara.
Acara kami setibanya di Ho Chi Minh adalah makan siang di sebuah restoran di Distrik No 1, pusat kota dan kawasan turis. Kawasan ini bernuansa Prancis yang sangat kental. Bangunan-bangunan lama bergaya arsitektur Eropa masih terpelihara dengan sangat baik. Bahkan yang menjadi ikon adalah sejumlah bangunan seperti Katedral Nortedram yang terbuat dari bata merah (konon meniru katedral aslinya di Paris) atau gedung kantor pos, dan balai kota. Di sejumlah kawasan bahkan dijumpai taman-taman dengan pohon mahoni besar-besar. Buat kita penduduk Jakarta atau kota-kota besar di Indonesia, iri rasanya melihat kawasan yang masih utuh itu. Bandingkan dengan kawasan kota di Jakarta yang sudah hancur dan centang-perentang tidak dipelihara, sehingga keasliannya sudah tidak tampak lagi.
Bangsa Vietnam dijajah oleh bangsa Prancis mulai 1867 sampai 1957. Saigon menjadi ibu kota wilayah pendudukan Prancis yang meliputi wilayah Laos, Kamboja dan Vietnam pada abad ke-19. Kota Saigon dibangun seperti model kota-kota di Prancis. Ciri-ciri itu masih tampak sampai kini seperti boulevard yang lebar, bangunan-bangunan berarsitektur Prancis, penduduk yang mayoritas Katolik. Bahkan di pinggir-pinggir jalan banyak pedagang kaki lima yang menjajakan iced coffee yang sedap. Sungai Saigon yang membelah kota juga memberi nuansa yang menambah keindahan kota ini.
Wisata Perang
Selain menjual pemandangan alamnya yang indah, pemerintah Vietnam menawarkan wisata perang kepada turis. Dua objek utamanya adalah Terowongan Cu Chi di Provinsi Cu Chi, yang berjarak sekitar 60 km utara kota Ho Chi Minh, dan War Remnant Museum di kota.
Terowongan Cu Chi memang salah satu tujuan wisata yang ingin dikunjungi banyak orang untuk menyaksikan bukti-bukti kegigihan kaum komunis Vietnam melawan pasukan asing, terutama semasa Prancis, semasa perang kemerdekaan dan pasukan AS saat menginvasi negara ini.
Memasuki Provinsi Cu Chi, yang terasa adalah suasana pedesaan yang damai dan teduh. Berbeda benar dengan suasana Ho Chi Minh City yang sibuk dan ingar-bingar. Tak tampak jejak yang menunjukkan wilayah ini sebagai kawasan pertempuran yang paling habis-habisan dibombardir pasukan AS semasa Perang Vietnam. Tidak seperti Ho Chi Minh City, di sini tidak banyak terlihat bangunan tua di kanan-kiri jalan. Rumah-rumah umumnya masih berumur relatif muda. Demikian pula dengan tumbuhan yang ada. Tidak tampak pepohonan dengan diameter besar seperti di daerah lain.
Menurut penuturan Phi, tour leader kami yang menolak menyebut nama lengkapnya, kawasan ini pada masa puncak perang rata dengan tanah akibat pengeboman tiada henti. Bahkan, pepohonan yang ada semua merangas habis entah akibat kena bom, napalm atau mati akibat disiram agen oranye yang begitu beracun dan mematikan.
Namun kisah terowongan di Cu Chi bukanlah diawali pada Perang Vietnam. Terowongan itu sudah dibangun oleh rakyat setempat sebagai bentuk perlawanan terhadap penjajahan Prancis. Ketika itu, pihak kolonial mengembangkan perkebunan karet di wilayah itu. Sebagai tenaga kerjanya, para pengelola kebun memakai kaum laki-laki dari perkampungan sekitar untuk bekerja paksa. Inilah yang akhirnya membangkitkan perlawanan rakyat Vietnam dan kebencian terhadap Prancis. Akhirnya, sambil melakukan perlawanan, penduduk membangun terowongan-terowongan di dekat rumah mereka untuk bersembunyi bila tentara Prancis datang untuk mencari kaum pria. Terowongan bawah tanah inilah yang akhirnya membuat kolonialisme Prancis diakhiri.
Panjangnya 200 Km
Di hutan tempat wisata perang ini, kita pertama-tama akan dibawa menuju ruang diorama yang menggambarkan bagaimana bentuk terowongan bawah tanah yang panjangnya sekitar 200 kilometer, saling terkait dan mampu menampung 10.000 orang itu.
Lalu kami dibawa berkeliling kawasan hutan menyaksikan terowongan, bangkai tank, diorama yang menggambarkan aktivitas para gerilyawan, seperti bengkel senjata, dapur, rumah sakit, ranjau-ranjau, dan lain-lain. Semuanya berada di bawah tanah. Bahkan kami sempat menjajal masuk ke terowongan sepanjang 40 meter, yang sudah diperbesar, dengan penerangan lampu. Huh…sungguh luar biasa, dengkul rasanya lemas, napas ngos-ngosan, keringat bercucuran. Bayangkan, mereka bisa bertahan hidup demikian selama lebih 20 tahun, sambil bertempur. Bahkan pengunjung, yang mau, boleh ikut mencoba menembak dengan senapan AK-47 atau senapan mesin dengan membayar 1 dolar AS untuk empat peluru. Ketika ditantang apakah ada yang berani masuk ke terowongan sesungguhnya, tidak ada yang mau mencoba.
Pemandu kami (mengenakan seragam warna hijau mirip seragam Hansip, lengkap dengan sepatu sandal dari ban bekas) memerlihatkan bagaimana terowongan ini dibuat sehingga sulit terlacak, bagaimana menyimpan asap supaya tidak terdeteksi, bagaimana membuat lubang hawa yang disamarkan. Ia juga memeragakan jebakan-jebakan sederhana namun sangat mematikan dan menyiksa.
Sebagai sebuah tempat wisata, Terowongan Cu Chi memang patut menjadi tujuan. Kita akan mendapati suasana romantisme perang di situ, tanpa sadar bahwa di lokasi tersebut puluhan ribu orang terbantai dalam pertempuran.
War Remnant Museum
Tempat wisata perang lainnya adalah War Remnant Museum (Museum Peninggalan Perang) tak jauh dari Distrik No 1, yang berkisah mengenai kekejaman tentara AS dan sekutunya semasa Perang Vietnam. Halaman museum itu dipenuhi dengan bangkai-bangkai tank, pesawat tempur, helikopter, artileri dll buatan AS yang disita semasa perang.
Di situ ditampilkan sejarah keterlibatan AS dalam perang saudara di Vietnam. Kekejaman AS itu digambarkan antara lain dengan statistik yang menyebutkan berapa juta ton bom yang dijatuhkan, berapa juta liter pestisida yang disiramkan untuk membunuh tanaman, pertanian, hutan dan manusia, jumlah korban dsb.
Foto-foto berbagai kekejaman tentara GI juga ditampilkan dalam berbagai foto hitam-putih, seperti ruang-ruang penyiksaan dan sel-sel tahanan. Yang tidak ada di situ adalah kekejaman tentara Vietcong pada masa itu. Jadi semangat propaganda anti-AS masih terasa.

Delta Sungai Mekong
Salah satu objek wisata lain yang kami kunjungi adalah Delta Sungai Mekong, letaknya sekitar 70 km dari kota Ho Chi Minh, sekitar dua jam ditempuh dengan bus. Sungguh saya tidak membayangkan kami akan dibawa ke sebuah sungai kecil butek, mirip seperti Ciliwung di daerah Condet, Jakarta Timur, lalu dibawa naik perahu. Ternyata perahu kami menuju Sungai Mekong yang besar, lebarnya dari tepi ke tepi sekitar 3 km.
Di Delta Mekong terdapat empat pulau besar. Kami menuju ke salah satunya yakni Pulau Unicorn, yang luasnya sekitar 10 km persegi.
Tidak banyak yang kita saksikan di situ, hanya peternakan lebah dan hasil bumi. Kami diantar duduk di saung-saung panjang, menikmati teh panas, buah-buahan, sambil dihibur tiga orang tua yang memainkan alat musik tradisional seperti rebab, gitar dan kendang. Lalu anak-anak yang bernyanyi. Tidak luar biasa, namun terasa keramahan dan ketulusan dalam menerima wisatawan, dan semangat kebersamaan mereka.
Dari tempat itu kami dibawa menyusuri kebun-kebun klengkeng menuju ke sebuah kanal kecil selebar tiga meter, yang membelah pulau itu. Di situ sudah menunggu sampan-sampan dengan para perempuan sebagai pendayungnya. Setiap sampan hanya berisi tiga penumpang dan dua pendayung. Jadilah kami menyusuri kanal itu sejauh sekitar dua kilometer, sampai tiba di Delta Mekong kembali di mana kapal kami sudah menunggu. Pemandangan di sini tidak luar biasa, namun bisa menggambarkan sedikit kehidupan masyarakat di situ.
Melihat keindahan Veitnam, terutama kota Ho Chi Minh, bayangan seram tentang negeri ini pun segera terhapuskan dari benak. Ho Chi Minh bahkan jauh lebih indah dan besar jika dibandingkan Phnom Penh di Kamboja, dan bahkan lebih maju dibandingkan Yangoon di Myanmar.
(SH/kristanto hartadi)

Copyright © Sinar Harapan 2003


AN IMPRESSION OF VIETNAM ( 6 DAYS/ 5 NIGHTS)
Wisata ini mengunjungi Cuchi terkenal terowongan, Damai Hanoi, Halong Bay yang indah
Hari 1: Tiba di International Airport. Di jemput oleh Guide / Representative kami dan diantar check in di sebuah Hotel di Saigon. Acara bebas......
 
BEST OF VIETNAM (8 DAYS/7NIGHTS)
 
 
Tidak banyak dari kita yang pernah berkunjung ke Vietnam dan mengenal negeri yang baru selesai berperang tahun 1975 ini. Pengetahuan kita tentang negara Paman Ho itu mungkin sebatas dari film-film Perang Vietnam buatan Hollywood . Membayangkan memasuki negara yang berpaham sosialisme itu pun rasanya seram.

Itulah mungkin yang terbayang dalam benak kita selama perjalanan dari Jakarta menuju Ho Chi Minh City, Untuk menuju Ho Chi Minh City anda bisa menggunakan berbagai maskapai penerbangan Nasioanal maupun International. Bayangan itu seolah-olah mendekati kenyataan saat anda mendarat di landasan Bandar Udara Internasional, Tan Son Nhat, sebagian bangunan peninggalan masa lalu masih tampak di sana-sini.

Namun bayangan itu akan segera hilang, ketika anda melihat ruang-ruang bandara yang terlihat moderen, rapi, bersih dan sejuk. Para petugas imigrasi dengan ramah akan menyambut anda. Biasanya mereka akan mengatakan “No visa, no visa for Indonesia,” sebab mulai bulan Desember 2003 lalu pemerintah Vietnam baru saja menerapkan kebijakan bebas visa untuk sebagian negara-negara ASEAN. Memang perlu waktu untuk memeriksa paspor sebab pihak imigrasi bandara masih menggunakan komputer secara manual untuk memasukkan data ke komputer.
Setelah keluar ruang imigrasi dan mengambil barang anda akan segera melihat pintu utama kota HCMC yang mungkin tidak pernah anda bayangkan sebelumnya (seperti di film-film rambo). Di luar bandara anda akan melihat suasana ramai. Namun, yang terasa justru suasana aman hingga anda tak merasa khawatir sedikit pun. Bandara Internasional Tan Son Nhat kini menerima penerbangan dari berbagai belahan dunia, seperti dari Singapura, Bangkok, Kuala Lumpur, Hong Kong, tokyo, Paris dan bahkan sekarang pun mereka telah membuka rute penerbangan dari dan ke Amerika.

Dalam perjalanan menuju ke hotel kita akan merlihat jalan-jalan yg relatif bersih dan ditunjang dengan trotoar bagi pejalan kaki yang lebar-lebar . Apabila anda berkunjung ke kota HCMC pada bulan Desember anda akan melihat tata kota yang sangat indah untuk menyambut datangnya Natal dan Tahun baru.

Kota Ho Chi Minh sangat padat penduduknya berjumlah sekitar 7 juta jiwa. Berjalan-jalan di kota ini yang terasa justru aroma kapitalis. Bayangkan saja, iklan-iklan luar ruang yang besar-besar tampak di sepanjang jalan yang mempromosikan segala hal, mulai dari produk konsumsi seperti bir hingga propaganda negara.

Untuk anda yg menggunakan penerbangan Nasional akan tiba di HCMC pada siang hari. Anda bisa langsung makan siang di sebuah restoran di Distrik No 1, pusat kota dan kawasan turis. Kawasan ini bernuansa Prancis yang sangat kental. Bangunan-bangunan lama bergaya arsitektur Eropa masih terpelihara dengan sangat baik. Bahkan yang menjadi ikon adalah sejumlah bangunan seperti Katedral Nortedram yang terbuat dari bata merah (konon meniru katedral aslinya di Paris) atau gedung kantor pos, dan balai kota. Di sejumlah kawasan bahkan dijumpai taman-taman dengan pohon mahoni besar-besar. Buat kita penduduk Jakarta atau kota-kota besar di Indonesia, iri rasanya melihat kawasan yang masih utuh itu. Bandingkan dengan kawasan kota di Jakarta yang sudah hancur dan centang-perentang tidak dipelihara, sehingga keasliannya sudah tidak tampak lagi.