My Son

My-Son, Buah karya Nenek Buyut
My-Son [baca: mi-son] adalah kompleks candi pemujaan kepada Shiva yang dibangun oleh Kerajaan Champa. Berbeda dengan Indonesia, kebudayaan Hindu di Vietnam tidak lagi berlanjut sesudah masuknya Agama Budha. Kami menggunakan Taksi selama 1,5 jam untuk tiba di kompleks candi. Kami memilih menggunakan taksi agar sampai di My-Son sebelum kelompok wisatawan tiba dan dapat melihat atmosfer candi sebelum terlalu ramai.
Karena petugas penjual tiket masuk kelihatan bingung dan tidak bisa berbahasa inggris, saya memilih untuk masuk kedalam area taman untuk mencari informasi lebih lanjut. Ternyata saya berselisipan jalan dengan perempuan cantik yang sedang membawa laptop dan kertas kerjanya keluar dari gedung perkantoran menuju gudang penyimpanan artefak. Dari dia saya tahu bahwa tempat saya membeli tiket sudah benar. Jawaban ini diberikan dengan aksen Italia yang sangat kental. Italia memang memberikan bantuan untuk pelestarian My Son, berupa tenaga arsitek untuk rekonstruksi dan arkeolog.
Setelah membayar tiket, akhirnya kami sepakat untuk berpura-pura nyasar ke bangunan gudang dimana Mbak Italiano tadi sedang bekerja. Dari pintu terlihat kotak-kotak berisi terracotta yang baru diselamatkan melalui penggalian dan sedang dalam penelitian. Silvia, belakangan kami tahu adalah arkeolog dari University of Rome. Sebelumnya ia sempat bekerja di penggalian Koloseum Roma. Kemeja lengan panjang berwarna khaki yang dilipat sebatas siku dan celana panjang birunya yang berdebu membuat saya seperti melihat cermin diri. Duh, andaikata keadaannya sedikit berbeda… konon memiliki pasangan seorang arkeolog sangat menyenangkan. Karena semakin tua, semakin disayang.
Dalam usaha untuk bisa lebih lama memandangi Silvia, kami mulai berceramah tentang sejarah Jawa yang punya kedekatan khusus dengan Champa. Apalagi Silvia mengaku bahwa ia adalah ahli India, namun bukan ahli Asia Tenggara. Silvia bercerita bahwa dia sedang riset selama empat bulan di My Son. Ia memillih My Son karena ia menemukan banyak simbol yang berasal dari India tetapi telah mengalami asimilasi di My Son. “Gee, you should come to Indonesia then. We’ll take care of you there….”
Silvia, do you know that the epics of Ramayana in Indonesia has different plot than in India? Di Indonesia, Rahwana tak pernah menculik Sinta. Adalah Rama yang terlalu dingin sebagai pria, sehingga Sinta memilih untuk sejenak bersama Rahwana. Walaupun Sinta sudah memasrahkan diri kepada Rahwana, Rahwana berkata:”Sinta…tak kan kusentuh kau seujung rambutpun. Sampai kau jatuh cinta kepada-ku”. (yang ini tak sempat saya ceritakan ke Silvia. Ide orisinilnya dari wawancara sebuah stasiun TV dengan Sujiwo Tedjo. Thanks for making Rahwana such gentleman)
Kami menawarkan untuk bercerita lebih banyak tentang sejarah Hindu dan pengaruh India di Indonesia sambil makan malam di Hoi An nanti. Sayangnya Mbak Indiana Jones wannabe ini mengaku jadwal risetnya sangat padat. Yah sudah lah….
Kami masuk lebih jauh ke dalam taman candi. Ternyata untuk mengurangi aktifitas yang mungkin menganggu keaslian candi, jarak antara pintu candi dan kompleks candi dibuat cukup jauh. Dan untuk itu pengelola menyediakan kendaraan antar jemput yang sudah termasuk dalam harga tiket. Dan karena kami hanya bertiga, maka kami diantar menggunakan shuttle car berupa Ford Utility M-151 MUTT(Military Utility Tactical Truck). Di Vietnam, naik Ford Utility sisa perang vietnam. What a boy’s dream!
Candi-candi di My Son, beberapa terbuat dari batu bata dan sebagian lagi dari batu cadas. Melihat ornamen pada candi sama sekali tidak terasa asing bagi orang yang pernah melihat Musium Gajah, Gedong songo, kompleks Candi Prambanan atau kompleks Candi di dataran Tinggi Dieng. Patung Shiva menari, Nandini - Sapi Suci yang menjadi kendaraan Shiva, lingga & yoni. My-Son adalah salah satu candi yang merekam pengaruh India di Asia Tenggara dan secara skala setara dengan Angkor di Kamboja, Pagan di Myanmar, Ayuthaya di Thailand, dan Borobudur di Jawa.
Kami kembali ke Hoi An, sambil mampir di Gereja yang terletak di puncak sebuah bukit kecil di desa Tra Kieu. Para arkeolog memperkirakan bahwa didesa inilah bekas Simhapura pusat Kerajaan Champa. Namun sudah tidak ada peninggalan bangunan yang dapat dilihat didaerah ini.

Comments