Hanoi‎ > ‎

Mengunjungi Hochiminh

City tour pagi ini dimulai dengan mengunjungi Presiden Ho Chi Minh. Demikian penjelasan di pintu metal detektor. Bahwa kami bukan memasuki mausoleum, tapi “to visit President Ho Chi Minh”. Setelah semua kamera dan hand phone kami titipkan kepada guide kami, kami harus melalui sebuah metal detektor dan tas tangan harus melalui x-ray scanner. Dari situ kami berjalan kearah bangunan mausoleum. Kami diharuskan mengantri dalam dua baris, melalui jalur yang sudah dipasangi tenda. Mendekati pintu masuk, kami mulai berjalan diatas karpet – walau terbuat dari plastik - berwarna merah, sebuah standard protokoler kenegaraan. Penjaga berpakaian putih-putih dengan senjata Automatik Kalasnikov 47 tampak mengawasi dengan ketat antrian. Teman saya diminta keluar dari antrian untuk diperiksa isi kantongnya, rupanya karena dompetnya terlalu tebal penjaga menyangka ia masih menyimpan kamera didalamnya. Dia juga diperingati untuk tidak memasukkan tangan ke kantong celana.
Masuk ke dalam bangunan maoseleum udara sejuk mulai menyergap. Di antara teralis penyejuk ruangan kami melihat beberapa kamera pengawas. Kami mulai menaiki tangga ke kiri, kemudian berbelok kekanan masuk ke ruang yang ditengahnya terdapat kotak kaca dimana jasad President Ho di baringkan. Lampu sorot kecil mencahayai tangan dan wajahnya. Kotaknya diletakkan agak tinggi, dan disetiap pojoknya dijaga oleh prajurit jaga. Kami dapat mengelilingi tiga sisi ruangan segi empat. Jalur jalan keliling ruangan ini dibuat tiga jalur, dimana jalur yang paling dekat dengan kotak kaca dibuat lebih tinggi dan di khususkan agar pengunjung anak-anak dapat melihat dengan lebih jelas Uncle Ho. Tidak mengherankan kalo remaja putri yang mengurusi pendaftaran city tour kami menyebut President Ho dengan sebutan “My Uncle Ho”. Di berbagai tempat penjualan postcard di Hanoi juga banyak kami temui kartu pos dengan gambar President Ho menggendong anak. Sebuah baliho besar di jalan utama, juga menggambarkan silouette Uncle Ho menggendong anak kecil.
Selesai kunjungan ini, kami diajak melihat museum dan bekas rumah tinggal President Ho Chi Minh. Di bekas kamar, dipajang peralatan keseharian President Ho. Yang menarik, di tempat tidurnya tidak tampak kasur, tetapi hanya tikar pandan. Di ruang makannya dipajang seperangkat peralatan makan keramik sederhana dan … rantang aluminium! Di ruang kerjanya masih dipajang buku-buku yang menjadi inspirasi perjuangan Ho. Mungkin ini yang digambarkan oleh kalimat Umar Kayam lewat kalimat low living but high thinking.
Sebagai pemimpin kharismatik, gambar-gambar Uncle Ho dalam kartu post lain adalah gambar Uncle Ho yang sedang bekerja, atau membaca, bukan gambaran pemimpin kharismatik yang gagah-gagahan dengan sejuta bintang perang didadanya. Disisi lain kebijakan Presiden Ho yang menerapkan gaya Stalin dalam politik dan ekonomi, termasuk mendirikan “re-education camp” dan perlakuannya terhadap kaum intelektual banyak disesalkan berbagai pihak.
Setelah itu kami berjalan melalui Mango Lane. Sebuah jalan dimana di kiri dan kanannya ditanami pohon mangga. Pohon mangga adalah tumbuhan asli daerah Selatan Viet Nam. Presiden Ho mendedikasikan sebuah jalan di dalam lingkungan istana negara untuk menjadi perlambang persatuan Vietnam Selatan dan Utara.
Di lantai bawah bungalow President Ho terlihat meja rapat tempat dimana rapat dengan menteri-menterinya sering dilakukan. Bungalow ini juga dijaga oleh pasukan berseragam putih. Sekali lagi di ruang tidur dan ruang kerja di bungalow ini juga digambarkan kesederhanaan President Ho dan tidak lupa…tumpukan buku-buku.
Setelah itu kami mulai masuk ke Musium Ho Chi Minh. Saya mengharapkan didalamnya adalah sebatas memorabilia President Ho, atau gambar-gambar kenangan. Ternyata didalam musium ini, pesan-pesan disampaikan melalui seni instalasi. Penggambaran kondisi Vietnam pada masa penjajahan. Pemikir-pemikir yang sangat berpengaruh pada President Ho, seperti Lenin, Stalin dan Karl Marx. Kondisi dunia saat perang dingin, sampai diorama tempat kelahiran President Ho. Sekali lagi digambarkan bahwa President Ho adalah seorang rakyat biasa yang lahir di gubuk di pinggir sebuah kolam teratai. Di pinggir diorama tersebut baru diberi keterangan dan benda-benda bersejarah seperti foto, tulisan tangan, dan kliping tulisan President Ho di L’Paria, harian golongan kiri di Perancis. Yang mungkin belum ada adalah, gambaran bagaimana faham komunis saat harus menghadapi pasar bebas. Atau keberadaan saya dan turis-turis lainnya dalam musium ini adalah jawaban bagaimana reaksi komunisme terhadap tekanan pasar bebas.
Saat makan siang, kami kembali ke daerah kota tua. Tidak jauh dari tempat kami makan, terlihat dua kios pembuat stempel dari kayu. Kami memang membaca di buku petunjuk perjalanan, salah satu kenang-kenangan khas Viet Nam adalah stempel nama yang ditulis dalam kata bahasa Viet Nam tetapi ditulis dalam aksara Cina. Jadilah kami semua memesan nama kami dalam stempel kayu. Masing-masing dari kami juga minta dijelaskan arti nama kami dalam bahasa Viet Nam. Entah serius atau sekedar menyenangkan hati kami, semua nama kami memiliki arti yang indah.
Selain membuat stempel Mr. Pham Ngoc Toan juga membuat stempel dengan gambar dan cetakan untuk membuat kue. Setiap membuat order nama, dia akan minta pemesannya untuk menuliskan namanya di selembar kertas. Kemudian ia mulai memecah sukukata kedalam bahasa Vietnam, kemudian ia membuka kamus bahasa Vietnam-Cina sambil menerangkan arti sukukata kepada pemesannya. Jika ia kesulita menjelaskan kepada tamunya, ia akan memanggil anaknya yang ternyata membuka kios disebelahnya.

Comments